Friday, September 10, 2010

Selamat Iedul Fitri 1431H

Idul Fitri "atawa" Lebaran

Oleh: KH.A. Mustofa Bisri

Hari Idul Fitri di Indonesia mungkin berbeda dengan Idul Fitri di negeri-negeri lain. Di Indonesia terasa lebih meriah bahkan dari hari raya Kurban yang sering disebut juga hari raya Akbar.

Di Indonesia, Idul Fitri juga sering disebut Lebaran. Perayaannya tak cukup hanya sehari. Di beberapa daerah orang merayakannya hingga sepekan. Bahkan, bila kita hitung acara-acara halalbihalalnya, bisa sebulan penuh.

Eloknya lagi, hari Idul Fitri di Indonesia tidak hanya dirayakan oleh kaum Muslim, tetapi melibatkan hampir seluruh masyarakat.



Indonesia dan Mesir

Sebagai perbandingan, Idul Fitri di Mesir. Pemandangan di sana hanya orang ramai melakukan shalat id, lalu rombongan keluarga-keluarga berpiknik mengunjungi taman-taman atau kebun binatang untuk makan bersama.

Di Indonesia, setelah melakukan shalat id, masyarakat melakukan silaturahmi, saling mengunjungi, dan bermaaf-maafan. Untuk yang terakhir ini, bahkan dilakukan oleh mereka yang sengaja datang dari tempat-tempat yang jauh, terutama perantau yang sekalian mudik meninjau keluarga. Kebiasaan silaturahmi ini tidak hanya dilakukan antarkeluarga, tidak hanya antarkaum Muslim, tetapi juga antar-RT, RW, instansi, dan lainnya.

Tampaknya, di hari raya ini, dada orang-orang terasa lebih lapang. Orang yang paling keras sekalipun, dalam suasana Lebaran, tiba-tiba mudah meminta maaf dan memaafkan. Hal ini boleh jadi karena bagi kaum Muslim khususnya, ada rasa plong, terlepas dari dosa-dosa hasil ketulusan mereka berpuasa selama satu bulan.

Memang ada hadis Nabi SAW yang menyatakan, "barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan semata-mata karena iman dan hanya mengharap ganjaran Allah, orang itu akan diampuni dosanya yang dilakukan sebelumnya".

Namun, kesalahan yang dilakukan manusia bisa kepada Tuhan, bisa juga kepada sesama hamba, dan ini rupanya amat disadari para pendahulu kita yang mula-mula mentradisikan silaturahmi Lebaran. Dengan asumsi dosa-dosa kita yang langsung kepada Allah telah diampuni oleh-Nya, bukan berarti semua dosa telah tuntas diampuni.

Ada dosa-dosa lain yang—paling tidak menurut saya—lebih gawat dan sulit, yaitu dosa-dosa kepada sesama. Jika dicermati, sebenarnya pergaulan dengan Allah jauh lebih enak ketimbang dengan manusia. Allah Maha Pengampun. Dosa kita kepada-Nya, sebesar apa pun jika disesali dan kita mohonkan ampun, akan diampuni-Nya. Lembaga pengampunan-Nya banyak sekali. Beristigfar; menghapus dosa; bersembahyang menghapus dosa; berpuasa menghapus dosa; berbuat baik menghapus dosa; dan banyak lagi.

Berbeda dengan manusia. Salah sedikit marah, bahkan sering kekhilafan yang tidak disengaja pun sulit dimaafkan. Untuk meminta maaf atau memaafkan, orang memerlukan timing tertentu seperti Lebaran ini.

Anehnya, terhadap Allah Yang Begitu Baik, kita justru begitu berhati-hati, bahkan sering berlebihan hingga menimbulkan waswas atau menimbulkan masalah di antara kita. Sementara terhadap sesama manusia yang sulit, kita sering sembrono dan seenaknya. Padahal, banyak dalil naqli yang menyebutkan gawatnya dosa antarsesama.

Menghormati sesama

Imam Muslim (817-865 M), misalnya, meriwayatkan sebuah hadis yang bersumber dari sahabat Abu Hurairah (w 676 M), sebuah hadis perlu direnung-perhatikan. Suatu hari Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, "Atadruuna manil muflis?" "Tahukah kalian siapa itu orang yang bangkrut?"

Para sahabat menjawab, "Pada kita, yang namanya orang bangkrut adalah orang yang tak punya lagi uang dan barang."

Rupanya bukan itu yang dimaksud Rasulullah SAW. Beliau bersabda, "Innal-muflisu min ummatii man ya’tii yaumal qiyaamah bishalaatin…." "Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku ialah orang yang datang di hari kiamat membawa shalat, puasa, dan zakat, sementara sebelumnya dia telah mencaci ini, menuduh itu, memakan harta ini, mengalirkan darah itu, memukul ini. Maka kepada si ini diberikan dari ganjaran kebaikan-kebaikan orang itu dan kepada si itu diberikan dari ganjaran kebaikan-kebaikannya. Apabila habis ganjaran kebaikan-kebaikan orang itu sebelum semua tanggungannya terlunasi, maka akan diambil dosa-dosa mereka yang pernah disalahinya dan ditimpakan kepadanya, kemudian orang itu pun dilemparkan ke neraka." Nauzubillah.

Hadis ini dengan jelas mengingatkan, kita tidak boleh hanya mengandalkan amal ibadah ritual, sementara secara sosial kita tidak berlaku hati-hati terhadap sesama. Tidak sedikit di antara kita orang tertipu, tanpa sadar, karena telah bersembahyang, berpuasa, berzakat, dan berhaji, merasa diri sudah dekat dengan Allah, bahkan ada yang keterlaluan merasa diri wakil-Nya, lalu seenaknya memperlakukan sesama hamba Allah. Dengan mudah mencaci maki, memukul, menuduh, melukai, merampas hak, dan berlaku sewenang-wenang terhadap sesama.

Banyak yang lupa, penilaian terakhir orang pantas disebut hamba saleh yang mendapat rida Allah dan memperoleh surga, semata-mata ada di tangan Allah.

Menurut firman-Nya dalam Al Quran, manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal dan menghormati. Yang paling mulia di antara mereka di sisi-Nya ialah orang yang paling bertakwa kepada-Nya. Dan siapa yang paling takwa, hanya Allah yang mengetahui. Bukan kita.

Nah, tradisi Lebaran yang khas di negeri kita ini sudah sepatutnya dicerdasi sebagai sesuatu yang memiliki nilai lebih. Lebaran untuk melebur dosa kita terhadap Allah sekaligus terhadap sesama. Dengan demikian, bisa diharapkan diri-diri kita menjadi kembali bersih dari segala dosa. Kembali ke fitrah, untuk kemudian berusaha menjaga kebersihannya dengan menjaga pergaulan dan hubungan baik kita, baik dengan Sang Pencipta maupun dengan sesama hamba-Nya.
http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis&sub=2&id=536
Selamat Idul Fitri 1431H.

Sholat di Masjid atau di Lapangan?

Sungguh sangat disayangkan apabila di hari yang fitri dan mulia idhul fitri ini ternoda oleh anggapan-anggapan miring yang salah satunya biasa merebak di kalangan masyarakat kita mengenai dimanakah tempat sholat ied yang paling afdhol, di lapangan ataukah di masjid? karena ada sebagian yang menganggap bahwa mereka yang sholat ied di dalam masjid/musholla (bukan di lapangan) adalah para tukang-tukang bid'ah yang sesat dan masuk neraka. (kalau gak percaya silahkan search di mbah google).

Sejak awal Nabi SAW membangun masjid dimaksudkan untuk tempat ibadah (menyembah Allah SWT). Dan juga sebagai salah satu bentuk syi'ar islam. 
"Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa sejak hari pertama adalah lebih berhak kamu bersembahyang didalamnya. di dalamnya ada orang2 yang senang membersihkan diri. dan Allah senang kepada orang2 yang membersihkan diri. (QS. Al-Taubah 108)



Sebagian ulama mengatakan bahwa selama masjid masih dapat menampung jama'ah, maka mengerjakan sholat ied di dalam masjid adalah lebih utama daripada mengerjakannya di lapangan. Namun jika masjid tidak dapat menampung jama'ah misalnya masjid yang ada kecil, sementara yang sholat di lapangan sangatla banyak, maka mengerjakan sholat di lapangan lebih utama daripada di mesjid. sebagaimana perkataan Syaikh Zakaria Al-Anshori dalam Fath al-Wahhab:

"Mengerjakan sholat ied di masjid lebih utama karena masjid merupakan tempat yang mulia. kecuali karena ada halangan, seperti masjidnya sempit." (Fath al-Wahhab, 83)

Memang, Nabi Muhammad SAW melaksanakan sholat ied di lapangan, namun itu bukan tanpa alasan. Nabi SAW melakukannya karena masjid beliau sempit dan tidak muat untuk menampung jamaah sholat id dalam jumlah banyak. sebagaimana yang disitir oleh Ibn Hajar al-Haitami dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj:

"Ada yg mengatakan bahwa shalat Ied di lapangan itu lebih utama karena ittiba' (ikut perbuatan Nabi SAW). Namun pernyataan ini dapat dibantah, karena sesungguhnya Nabi SAW melakukannya sebab masjid yg beliau bangun terlalu kecil (sehingga tidak dapat menampung jama'ah).
(Lihat Tuhfah Al-Muhtaj, Juz III, hal 27)

Lihat juga pernyataan Imam Syafi'i dalam kitab Al-Umm, Juz I, hal 267.

Dengan demikian, selama tidak ada halangan, maka lebih utama mengerjakan sholat ied di masjid. kecuali kalau ada udzur, ketika itulah sholat ied lebih baik di kerjakan di lapangan.

Masalah tempat sholat ied ini bukan terletak pada sah atau tidaknya sholat, namun hanya pada afdhol atau tidak afdholnya, jadi tidak semestinya ada anggapan dari segelintir ummat yang mengatakan bahwa mengerjakan sholat ied di lapangan adalah bid'ah dholalah yang sesat.

melalui pesan ini pula, saya pribadi dan juga atas nama admin group mengucapkan selamat hari raya idhul fitri. Minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin.

Wallahu a'lam.

Saturday, August 14, 2010

Kemerdekaan di Bulan Puasa

Suatu keistimewaan tiada kira kemerdekaan bangsa ini pada tahun 2010. Setidaknya kita sebagai penerus perjuangan bangsa bisa merasakan gentirnya perjuangan para pendahulu kita. Kakek atau nenek kita dahulu mempertaruhkan nyawanya untuk kemerdekaan bangsa ini, kini kita sebagai penerus beliau-beliau hanya mampu mempertaruhkan ucapan omong kosong untuk bangsa ini. Darah dibayar dengan uang, dahulu darah yang mengalir untuk perjuangan kini uang yang ganti mengalir untuk itu.

Flashback ke detik-detik Kemerdekaann Republik Indonesia 65 tahun yang lalu.

Rasakan bila kita berada dalam berjubel-jubel masyarakat Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat. Hari Jum'at, 17 Agustus 1945 merupakan hari bersejarah bagi bangsa ini, dimana ketika itu hari itu merupakan Bulan Ramadhan. Ir. Soekarno, Bung Hatta, Ahmad Subardjo, Sayuti Melik, dkk merumuskan sebuah teks yang berjudul PROKLAMASI di rumah Tadashi Maeda ketika watu sahur.

Hari itulah titik balik perjuangan bangsa ini, terhitung dari ketika naskah teks Proklamasi itu diketik oleh Sayuti Melik. Penindasan kolonialisme Belanda dan Jepang yang mempekerjakan warga pribumi untuk proyek mereka mulai detik itu mulai berubah. Semangat nenek dan kakek kita ketika bulan Ramadhan untuk tetap memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini tercapai sudah. Puasa dengan perut yang mungkin keisi maupun tidak kakek nenek kita tetap berjuang, bagaimana dengan kita?

Marilah kita introspeksi diri kita masing-masing di bulan suci ini, menelaah dan merasakan bagaimana perjuangan kemerdekaan itu di mata kakek nenek kita dulu. Mereka tentu saja juga berharap anak keturunannya mewarisi semangat perjuangan itu. Perjuangan yang bersifat membangun bangsa ini menjadi bangsa yang terpandang dan maju dengan Semangat Kemerdekaan di Bulan Ramadhan.

Biodata Diri

Nama : Mazdan Maftukha Assyayuti (Mazdan)
TTL : Bantul, 24 Mei 1994
Alamat : Jalan Urip Sumoharjo 26 Bejen Bantul
Kelas : X6
Asal sekolah : SMP N 1 Bantul
Hobi : membaca novel, hadrohan, ngeblog, ngaji
Cita-cita : masuk surga
Motto hidup : hidup adalah perjuangan tanpa henti

Wednesday, August 11, 2010

SBY Diminta Tangani Kekerasan Agama Terkait Perizinan

Rabu, 11 Agustus 2010 | Jakarta, NU Online

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diminta menangani kasus kekerasan bernuansa agama, sehubungan terjadi kerusuhan massa di Bekasi Ahad (8/8) terkait penolakan warga terhadap adanya keberadaan rumah ibadah yang belum dilengkapi izin. "Sebab tugas melindungi seluruh umat beragama saat mereka beribadah adalah tugas pemerintah," kata Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi bersama tokoh lintas agama di Bekasi, Selasa.


Selain Hasyim, tokoh lintas agama yang turut hadir antara lain Ketua Umum PGI Pdt Andreas A Yewangoe, Ketua KWI Mgr Mandagi, dan Ketua PGLII Pdt Nus Reimus. Pada kesempatan itu tokoh lintas agama berjanji akan berkirim surat kepada Presiden agar memberikan perhatian terhadap kasus tersebut.

Hasyim menyatakan prihatin dengan kasus kekerasan bernuansa agama yang belakangan ini masih terjadi di Indonesia. Pada bagian lain mantan Ketua Umum PBNU itu meminta semua pihak menempatkan masalah jemaat HKBP pada posisi yang proposional. Menurutnya, ada perbedaan antara masalah orang yang sedang melaksanakan peribadatan dengan masalah administrasi perizinan mendirikan rumah ibadah.

"Kebaktian adalah hubungan antara manusia dengan Tuhan. Sedangkan masalah administrasi mendirikan rumah ibadah adalah masalah dunia, bukan hubungan transendental," katanya. Soal perizinan, lanjutnya, adalah persoalan antara pihak yang mengajukan perizinan dengan pihak yang berwenang menerbitkan perizinan.

"Dalam hal ini pemerintah wajib melindungi agar pihak-pihak yang tidak memiliki kepentingan langsung dengan perizinan rumah ibadah tersebut tidak ikut campur pada prosesnya," katanya. Hasyim mengaku sering menemukan kasus perizinan rumah ibadah terkatung-katung disebabkan ikut campurnya pihak-pihak yang sebenarnya tidak memiliki kepentingan, bahkan mengatur dan menentukan proses perizinan itu.

"Sehingga masalahnya menjadi ruwet dan banyak juga yang akhirnya memunculkan konflik kekerasan yang mengatasnamakan agama, seperti yang terjadi di Kampung Ciketing Asem Mustikajaya ini," katanya. Data dari FKUB Kota Bekasi, kini ada ratusan rumah dan rumah toko yang dialihfungsikan menjadi gereja dan berpotensi menimbulkan resistensi dari warga meski ditempat tersebut sudah ada tempat peribadatan. (ant/mad)

Menag Ucapkan Selamat Beribadah Puasa

Rabu, 11 Agustus 2010 | Jakarta, NU Online

Pemerintah telah menetapkan 1 Ramadhan 1431 H jatuh pada Rabu 11 Agustus 2010. Menteri Agama Suryadharma Ali mengucapkan selamat berpuasa kepada masyarakat. "Atas nama pemerintah izinkan kami menyampaikan ucapan kepada kaum muslimin dan muslimah selamat menjalankan ibadah puasa semoga amalnya diterima Allah SWT," kata Suryadharma Ali saat menutup sidang Itsbat di Kementerian Agama, Jakarta, Selasa (10/8).


SDA pangilan akrab Menteri Agama turut mengucapkan terima kasih kepada lembaga atau badan penelitian Hisab dan Rukiyah serta ormas-ormas atas kerjasamanya maka penetapan 1 Ramadhan 1431 H dapat berjalan dengan baik. "Kita semua pada malam ini bersyukur kepada allah SWT, penetapan 1 ramadhan 1431 H dilakukan secara mufakat dari semua pihak, bisa dikatakan aklamasi," ujarnya.

Menag berharap kedepan dalam menetapkan 1 Ramadan tidak ada lagi perbedaan. Karenanya, tutur SDA, perlu adanya menyatukan kriteria didalam cara menghisab dan merukiyah. "Nantinya dengan demikian ada kesatuan kriteria dan diharapkan pada masa-masa yang akan datang tidak lagi ada perbedaan-perbedaan dalam menetapkan 1 ramadan atau 1 syawal," pungkasnya. (min) 

MENGENANG GUS DUR

Said Aqil: Gus Dur adalah Ulama Aswaja Sejati
Rabu, 11 Agustus 2010 | Jakarta, NU Online

Para ulama Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) memiliki kecenderungan yang sangat tinggi untuk memperhatikan tingkat pemahaman masyarakat awam. Karenanya para ulama Aswaja, memiliki bahasa komunikasi yang sangat mudah dipahami oleh masyarakat di tingkat bawah.

Contoh ulama masa kini yang paling mudah dan paling sempurna dalam penguasaan dan pengamalan ini adalah Ketua Umum Pengurus Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tiga kali yang juga Presiden Republik Indonesia ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dari penguasaan dan pengamalan ini berarti Gus Dur merupakan ulama Aswaja sejati yang hidup di zaman ini.

Demikian dinyatakan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj ketika berpidato dalam peringatan kelahiran Gus Dur di kediaman Ciganjur, akhir pekan lalu. Menurut Kiai said -sapaan akrab KH Said Aqil Siradj, Gus Dur merupakan ulama yang sangat peduli dengan kondisi nyata rakyat Indonesia.

"Banyak para intelektual yang hanya berbicara tentang rakyat kecil dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh rakyat kecil. Sehingga, rakyat kecil pun pembicaraan mereka tidak pernah didengarkan oleh rakyat kecil," terang Kiai Said. Lebih lanjut Kiai Said menjelaskan, kondisi yang demikian berbeda dengan kemampuan dan pengamalan Gus Dur yang mampu berbicara dengan beragam level Bahasa. Sehingga selain dipahami oleh kaum elit, pernyataan-pernyataan Gus Dur juga mudah dipahami oleh masyarakat tingkat bawah.

"Memang kalau sedang berbicara politik, Gus Dur sering pusing kepala. Bukan Hanya rakyat yang pusing, tetapi para intelektual pun kut pusing. Namun hal ini tidak berlaku jika berbicara tentang keilmuan atau masalah-masalah rakyat," tandas Kiai said. (min) 

SAMBUT RAMADHAN

PBNU: Mari Berikan Contoh Kehidupan yang Damai
Rabu, 11 Agustus 2010 | Jakarta, NU Online

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengimbau kepada kaum muslimin dan muslimat serta seluruh masyarakat Indonesia untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan ini dengan hati yang bersih. Ramadhan adalah saat memberikan contoh kehidupan yang damai. “Jauhkan silang sengketa, satukan gerak dan langkah. Mari kita bangun negeri ini dengan menjaga suasana kedamaian di bulan Ramadan. Hindari tindakan yang destruktif yang memancing retaknya persatuan dan kesatuan bangsa,” kata Katib Aam PBNU KH Malik Madani di kantor PBNU Jakarta, Rabu (10/8).


Menurut Kiai Malik, umat Islam sebagai mayoritas pemeluk agama di Indonesia yang sedang menjalankan ibadah puasa harus memberikan contoh kehidupan yang damai dan tentram kepada umat agama lain. “Semangat Ramadhan harus menjiwai bangsa ini karena kita tahu kaum muslim yang di bulan Ramadhan ini tenggelam dalam ibadah merupakan mayoritas sehingga mereka dituntut untuk menjadi contoh dalam kehidupan yang damai, toleransi dan sebagainya,” katanya.

Pihaknya mengimbau umat Islam untuk tidak Kami mengimbau agar tidak melakukan aksi swiping dan semacamnya. PBNU menilai tindakan itu telah mengurangi makna kedamaian Ramadhan. “Cukuplah himbuan kepada semua pihak untuk menghormati bulan Ramadhan. Untuk menghormati itu tidak perlu melakukan pemaksaaan karena pemaksaan itu justru bertentangan dengan semangan kedamaian yang kita cita-citakan bersama,” katanya. (nam)

Ruko yang Dialihfungsikan Menjadi Gereja Berpotensi Menimbulkan Resistensi

Rabu, 11 Agustus 2010 | Warta Ummat
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diminta menangani kasus kekerasan bernuansa agama, sehubungan terjadi kerusuhan massa di Bekasi Minggu (8/8) terkait penolakan warga terhadap adanya keberadaan rumah ibadah yang belum dilengkapi izin.

"Sebab tugas melindungi seluruh umat beragama saat mereka beribadah adalah tugas pemerintah," kata Sekjen ICIS KH Hasyim Muzadi, di bersama tokoh lintas agama di Bekasi, Selasa. Selain Hasyim, tokoh lintas agama yang turut hadir antara lain Ketua Umum PGI Pdt Andreas A Yewangoe, Ketua KWI Mgr Mandagi, dan Ketua PGLII Pdt Nus Reimus.

Pada kesempatan itu tokoh lintas agama berjanji akan berkirim surat kepada Presiden agar memberikan perhatian terhadap kasus tersebut. Hasyim menyatakan prihatin dengan kasus kekerasan bernuansa agama yang belakangan ini masih terjadi di Indonesia. Pada bagian lain mantan Ketua Umum PBNU itu meminta semua pihak menempatkan masalah jemaat HKBP pada posisi yang proposional.

Menurutnya, ada perbedaan antara masalah orang yang sedang melaksanakan peribadatan dengan masalah administrasi perizinan mendirikan rumah ibadah. "Kebaktian adalah hubungan antara manusia dengan Tuhan. Sedangkan masalah administrasi mendirikan rumah ibadah adalah masalah dunia, bukan hubungan transendental," katanya.

Soal perizinan, lanjutnya, adalah persoalan antara pihak yang mengajukan perizinan dengan pihak yang berwenang menerbitkan perizinan. "Dalam hal ini pemerintah wajib melindungi agar pihak-pihak yang tidak memiliki kepentingan langsung dengan perizinan rumah ibadah tersebut tidak ikut campur pada prosesnya," katanya.

Hasyim mengaku sering menemukan kasus perizinan rumah ibadah terkatung-katung disebabkan ikut campurnya pihak-pihak yang sebenarnya tidak memiliki kepentingan, bahkan mengatur dan menentukan proses perizinan itu.

"Sehingga masalahnya menjadi ruwet dan banyak juga yang akhirnya memunculkan konflik kekerasan yang mengatasnamakan agama, seperti yang terjadi di Kampung Ciketing Asem Mustikajaya ini," katanya. Data dari FKUB Kota Bekasi, kini ada ratusan rumah dan rumah toko yang dialihfungsikan menjadi gereja dan berpotensi menimbulkan resistensi dari warga meski ditempat tersebut sudah ada tempat peribadatan. (mui/ant)

Friday, July 23, 2010

Wahabi Menghancurkan Kubah Makam Para Sahabat RA dan Peninggalan Islam

Ditranslasi dari buku Wahabiyah fi alMizan Muassasah Al-Nasyr Al-Islami At Tabi’ah Li Jama’ah karya Sayikh Jafar Subhani. Telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia dalam buku berjudul Tawassul, Tabaruk, Ziarah Kubur dan karamah Wali, sebuah Krtik Atas Ajaran Wahabi

-----------------------------------------------------------------------------------

Peninggalan-peninggalan Islam merupakan tanda keotentikan agama, sehingga menjaga peninggalan para Nabi as, khususnya peninggalan Nabi Muhammad saw dan keluarganya, serta rumah yang beliau tinggali dan masjid dimana mereka mendirikan sholat terdapat faedah yang besar. Bila semua tempat tersebut tetap terjaga, maka keotentikan Islam tidak akan menimbulkan keragu-raguan bagi umat sesudahnya, karena rumah dimana ia dilahirkan jelas, Gua Hira tempat Beliau saw menerima wahyu juga ada, dan tempat Makam Nabi Muhammad saw masih terjaga hingga saat ini. Hal ini sangat berbeda dengan agama Nasrani yang bahkan tidak mengetahui pasti rumah Nabi Isa as.




Namun Wahabi Saudi telah merubuhkan begitu banyak bangunan bangunan bersejarah sebagai bukti Sirah Nabawiyah, sebagai bukti perjalanan Nabi Muhammah saw dan Para sahabat dalam mendakwahkan Islam. Bahkan hingga hari ini kita bisa menyaksikan kuburan Nabi Ibrahim as dan istrinya di Quds, semua makam itu mempunyai tanda dan bangunan. Mengapa Khalifah Islam kedua Umar bin Khatab ra ketika menundukkan Quds tidak memerintahkan kaum muslim untuk menghancurkan Makam Nabi-nabi? Apakah ia menjadi sama dengan orang musyrik yang tidak mengahancurkan Makam-makam yang ada kubah didalamnya ? Apakah Muhammad bin Abdul Wahab dan Raja Su’ud dari Saudi lebih baik dari Khlaifah Umar bin Khattab ra?

Maka pada tahun 1344 H ( 1940 M ) ketika keluarga Su’ud berhasil menguasai kota Makkah dan Madinah maka mulailah mereka menghancurkan Kubah-kubah dikuburan para Sahabat di Baqi, peninggalan keluarga Rasul dan para Sahabatnya. Raja Su’ud mengirimkan Hakim Agung Najd, Sulaiman bin Bulaihad untuk menekan Ulama Madinah. Jika mereka menolak maka mereka akan dituduh kafir, Syirik dan jika tidak bertaubat maka harus dibunuh. Tanggal 8 Syawal 1344 H , kaum Wahabi mulai menghancurkan peninggalan Rasulullah saw dan makam para sahabat, Makam Istri Rasulullah Khadijah Ra dan para Ahlul Bayt juga dihancurkan. Hal ini menimbulkan kemarahan dikalangan muslim Sunni dan Syiah diseluruh dunia.

Diantara masalah yang paling peka bagi kaum Wahabi adalah membangun Makam Para Nabi as, Wali-Wali dan orang yang Saleh. Ulama yang pertama kali membahas masalah ini adalah Ibnu Taymiyah dan Ibnu Qayyim muridnya. Keduanya berfatwa membangun kubur adalah haram dengan demikian orang harus menghancurkannya. Ibnu Qayyim dalam bukunya Zaadul Ma’ad Fi Huda Khiri Ibad mengatakan,”Menghancurkan bangunan diatas makam adalah hukumnya wajib dan tidak boleh membiarkannya , meski satu hari setelah mampu melakukannya”.

Sungguh mengherankan pendapat para ulama ini, juga pendapat Ulama-Ulama Wahabi. Bagaimana mungkin membangun kubur hukumnya haram dan menghancurkan bangunan diatas kubur hukumnya wajib, padahal kita semua mengetahui bahwa kaum Muslimin memakamkan Rasulullah saw dikamar istrinya Aisyah ra berarti berada didalam rumah Nabi saw. Bahkan kemudian Abu Bakar ra yang merupakan sahabat terdekat Nabi saw dan ayah dari Siti Aisyah rha pun dimakamkan dirumah tersebut, dan kemudian Umar ra pun dimakamkan juga disamping Nabi saw dan Abu Bakar ra. Bukankah semua ini dilakukan dijaman para Sahabat utama, bagaimana kaum Wahabi menjelaskan tentang hal ini? Apakah para sahabat Abu Bakar ra, Umar ra dan Ali ra serta sahabat yang lainnya membongkar rumah Siti Aisyah karena merupakan bangunan diatas makam Nabi saw?. Bukannya mengambil pelajaran berharga dari hal ini, malah kaum Wahabipun saat ini berniat untuk menghancurkan makam Rasulullah saw, dan para sahabat yang berada didalam Masjid Nabawi.

Wednesday, July 21, 2010

AlHabib Muhammad bin Thohir Al-Haddad

Beliaulah Habib Muhammad bin Thohir Al-Haddad, Awliya Allah yang dilahirkan di kota Geidun, Hadramaut pada tahun 1838 M kemudian hijrah ke Indonesia dan menjadi keberkahan bagi warga Tegal. Khususnya dikarenakan datangnya beliau berdakwah di Tegal hingga akhir hayatnya ia dimakamkan di kompleks pemakaman Kauman atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama makam Alhaddad, tepatnya di Desa Kraton, Tegal Barat. Nasab beliau: Al Habib Muhammad bin Thohir bin Umar bin Abubakar bin Ali bin Alwi bin Abdullah (shahiburratib) Al-Haddad bin Alwi bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Alwi bin Ahmad bin Abubakar bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Abdurrahman bin Alwi bin Muhammad bin Ali bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Abdullah bin Ahmad AlMuhajir bin Isa bin Muhammad anNaqib bin Ali alUraidhi bin Ja’far asShadiq bin Muhammad Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib kw. suami dari Fatimah az-Zahra putri Rasulullah SAW.



Sanad keturunan beliau termasuk suatu silsilah dzahabiyyah, sambung-menyambung dari ayah yang wali ke kakek wali, demikian seterusnya sampai bertemu dengan Rasulullah SAW. Ayah beliau Al-Habib Thohir bin Umar Alhaddad adalah seorang ulama besar di kota Geidun, Hadramaut. Al-Habib Thohir banyak membaca buku di bawah pengawasan dan bimbingan ayah dan kakek beliau, sehingga diberi ijazah oleh ayah dan kakeknya sebagai ahli hadist dan ahli tafsir. Al Habib Muhammad bin Thohir sendiri adalah seorang yang wali min auliya illah yang sebelumnya banyak belajar dari kakeknya dan ulama hadramaut hingga dikenal sebagai ulama besar yang menjadi rujukan di zamannya. Tidak hanya Ayah dan beliau sendiri, putra-putranya pun harum namanya dengan pangkat kewalian yang masyhur yakni Habib Alwi bin Muhammad Al Haddad (1299 H- 1373 H) yang dimakamkan di Kramat, Empang, Kota Bogor dan adiknya Al-Habib Husein bin Muhammad Al Haddad (1302 H-1376 H) yang sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk berdakwah di Tuban dan Jombang, Jawa Timur tetapi pada akhir umur, beliau dimakamkan di samping makam ayahandanya.

Beliau terkenal sebagai alim yang dermawan lagi menghormati tamu-tamunya. Bahkan apabila ia berkunjung ke sebuah kota justru beliaulah yang menjamu dan memperlakukan orang kota tersebut layaknya seorang tamu. Selain sukses sebagai alim ulama, beliau juga terkenal sebagai saudagar. Bila ia berkunjung ke suatu tempat, beliau membawa 40 pembantunya untuk memikul barbagai keperluan untuk menjamu penduduk kota. Sebagaimana yang diutarakan cicit beliau, Al-Habib Abdullah bin Hasan bin Husein AlHaddad, “Bukan Habib Muhammad yang menjadi tamu, justru orang kota yang menjadi tamunya”. Ketika umur 47 tahun, beliau bersama dua anaknya berkunjung ke Indonesia dan selama 45 hari beliau berdakwah dan berdagangdi berbagai kota. Akan tetapi, tak lama beliau jatuh sakit dan meninggal di Kota Tegal pada 18 rajab tahun 1316 H atau 1885 M.

Haul Al Habib Muhammad bin Thohir Al Haddad pertama kali diselenggarakan oleh Al Habib Muhammad bin Idrus Al Habsyi (1265 H-1337 H), Surabaya, Guru yang banyak membentuk karakter kedua putra AlHabib Muhammad bin Thohir Al Haddad. Semoga berkah ilmu dan teladan beliau senantiasa menyelimuti masyarakat Tegal khususnya dan Muslimin pada umumnya dan akan dikenang selalu dengan senantiasa mempelajari sejarah beliau dan mengamalkan ajaran dan akhlaq beliau.